MODEL-MODEL PENGAJARAN DALAM PEMBELAJARAN SAINS
![]()
Selama bertahun-tahun telah banyak diteliti dan diciptakan bermacam-macam pendekatan mengajar. Pendekatan pengajaran yang diuraikan di dalam modul ini didasarkan pada konsep model pengajaran yang pada awalnya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil, dan Showers, 1992). Joyce, Weil, dan Showers (1992) memberi nama tiap-tiap pendekatan suatu model pengajaran, meskipun salah satu dari beberapa istilah lain, seperti strategi pengajaran, metode pengajaran, atau prinsip pengajaran, telah digunakan. Istilah model yang dipilih oleh Joyce, Weil, dan Showers digunakan untuk dua alasan penting.
Pertama, istilah model mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode, atau prosedur. Seperti yang digunakan di sini istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pengajaran berdasarkan permasalahan), meliputi kelompok-kelompok kecil siswa bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati bersama. Dalam model ini, siswa seringkali menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Jadi, satu model pengajaran dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukan penelitian, berdiskusi dan memperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif, menciptakan karya seni, dan melakukan presentasi.
Istilah model pengajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau prosedur tertentu. Ciri-ciri tersebut adalah (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Kedua, model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan adalah tentang mengajar di kelas, mobil, atau praktek mengawasi anak-anak. Seperti yang akan diuraikan pada subbab yang akan datang, model pengajaran diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaksnya (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model pengajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran yang lain.
Sintaks suatu model pengajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa, urutan kegiatan-kegiatan tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu dilakukan oleh siswa.
Sintaks dari bermacam-macam model pengajaran mempunyai komponen-komponen yang sama. Misalnya, boleh dikatakan bahwa semua pembelajaran diawali dengan menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Demikian pula, setiap model pengajaran selalu mempunyai tahap “menutup pelajaran” yang berisi merangkum pokok-pokok pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. Namun, sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga mempunyai perbedaan. Misalnya, urutan tahap-tahap kegiatan pada pengajaran langsung berbeda dengan yang terdapat pada pembelajaran kooperatif. Perbedaan-perbedaan inilah, terutama yang berlangsung di antara pembukaan dan penutupan pembelajaran, yang harus dipahami oleh para guru jika model-model tersebut ingin dapat dilaksanakan dengan berhasil.
Setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Belajar secara kooperatif, misalnya, memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel yang meliputi tersedianya meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Sebaliknya, kebanyakan pengajaran langsung dapat berjalan dengan optimal apabila para siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru, yang seringkali berdiri di dekat papan tulis. Pada pengajaran langsung, siswa perlu tenang dan memperhatikan uraian serta segala sesuatu yang dilakukan oleh guru. Pada belajar kooperatif, para siswa perlu berkomunikasi antara yang satu dengan yang lain.
Arends dan para pakar pembelajaran yang lain, berpendapat bahwa tidak ada model pengajaran yang lebih baik daripada model pengajaran yang lain. Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pengajaran, agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beranekaragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini.
Tidaklah cukup bagi guru hanya menggantungkan diri pada satu pendekatan atau metode pembelajaran. Bermodalkan kemampuan melaksanakan berbagai model pengajaran, guru dapat memilih model yang sangat baik untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu atau yang sangat sesuai dengan lingkungan belajar atau sekelompok siswa tertentu. Lagipula, model yang berbeda dapat digunakan secara bersama. Misalnya, seorang guru dapat menggunakan pengajaran langsung untuk mengajarkan materi atau keterampilan baru, kemudian diikuti oleh diskusi kelas untuk melatih siswa berfikir tentang topik tersebut, lalu membagi siswa menjadi kelompok-kelompok belajar kooperatif, untuk menerapkan keterampilan yang baru diperolehnya dengan membangun pemahamannya sendiri tentang materi pelajaran.
Menguasai sepenuhnya model-model pengajaran yang banyak diterapkan merupakan proses belajar seumur hidup. Model pengajaran yang dimaksud ialah pengajaran langsung, belajar secara kooperatif, dan pengajaran berdasarkan masalah. Jika dipelajari dengan baik model-model pengajaran ini akan memenuhi kebutuhan para guru pada awal karier mengajarnya. Guru yang kreatif akan mengadaptasi model tersebut agar sesuai dengan situasi pembelajaran yang dihadapi. Tetapi perlu diingat bahwa, apabila seorang guru terlalu menyimpang dari suatu sintaks model atau lingkungan belajar yang diperlukan, dia tidak lagi menggunakan variasi dari model tersebut, dan tujuan pembelajaran yang dikehendaki mungkin sekali tidak akan tercapai.
Setelah Anda mempelajari modul ini diharapkan Anda memiliki kompetensi berikut: Mengusai pengelolaan pembelajaran sains terutama mampu menerapkan model-model pengajaran dan strategi belajar dalam pembelajaran sains.
Adapun tujuannya, sesuai dengan indikator yang menunjukkan bahwa Anda telah mencapai kompetensi tersebut di atas antara lain:
1. Mampu mengembangkan rencana pelajaran (RP) berorientasi model pengajaran langsung (DI).
2. Mampu mengaplikasikan RP berorientasi model DI tersebut di dalam kelas Sains.
3. Mampu mengembangkan RP berorientasi model pembelajaran kooperatif (CL).
4. Mampu mengaplikasikan RP berorientasi model CL tersebut di dalam kelas Sains.
5. Mampu mengembangkan RP berorientasi model pengajaran berdasarkan permasalahan (PBI).
6. Mampu mengaplikasikan RP berorientasi model PBI tersebut di dalam kelas Sains.
7. Mampu melatihkan strategi-strategi belajar (LS) dalam pembelajaran Sains kepada siswa.
A. Pengajaran Langsung (Direct Instruction/DI)
Pengajaran langsung merupakan suatu model pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center. Dalam menerapkan model pengajaran langsung, guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara langkah demi langkah. Karena dalam pembelajaran peran guru sangat dominan, maka guru dituntut agar dapat menjadi seorang model yang menarik bagi siswa.
1. Landasan Teoritik
Model Pengajaran langsung bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling). Seperti yang telah diuraikan di dalam modul yang berjudul: “Landasan Teori dalam Pengembangan Model-model Pengajaran,” teori belajar sosial tentang pemodelan tingkah laku itu dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, belajar yang dialami manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku dan pengalaman (keberhasilan dan kegagalan) orang lain. Uraian lebih rinci dari landasan teoritik model pengajaran langsung ini dapat dibaca pada modul tersebut dengan subjudul Teori Pemodelan Tingkah Laku.
2. Tujuan Hasil Belajar Siswa
Sebagian besar tugas guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, misalnya bagaimana cara menggunakan neraca lengan (Ohauss), dan bagaimana melakukan suatu eksperimen. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapat diungkapkan dengan kata-kata), misalnya nama-nama bagian neraca Ohauss.
Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang sains merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Sedangkan, bagaimana cara mengoperasikan alat-alat ukur dalam sains merupakan contoh pengetahuan prosedural.
Dalam banyak hal, penguasaan terhadap pengetahuan dasar prosedural dan deklaratif terdiri atas penguasaan kegiatan khusus dan kegiatan berurutan. Misalnya, agar siswa terampil menggunakan neraca Ohauss untuk mengukur massa, memerlukan pengetahuan deklaratif tentang nama-nama bagian neraca Ohauss dan juga pengetahuan prosedural seperti bagaimana mengenolkan neraca, menggeser anak timbang, dan membaca skala.
Selain model pengajaran langsung efektif untuk digunakan agar siswa menguasai suatu pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif sederhana, model ini juga efektif untuk mengembangkan keterampilan belajar siswa. Beberapa keterampilan belajar siswa yang harus dikembangkan oleh guru, seperti menggarisbawahi, membuat catatan, dan membuat rangkuman. Untuk lebih rincinya, keterampilan belajar siswa itu akan dibahas dalam modul ini dengan subjudul “Strategi-Strategi Belajar.”
3. Tingkah Laku Mengajar (Sintaks)
Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran dengan pekerjaan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.
Fase persiapan dan motivasi ini kemudian diikuti oleh presentasi materi ajar yang diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pelajaran itu termasuk juga pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata. Rangkuman kelima fase tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
TABEL 1. SINTAKS MODEL PENGAJARAN LANGSUNG
| FASE-FASE | PERILAKU GURU |
| Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan. Fase 3 Membimbing pelatihan. Fase 4 Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. | Guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. Guru mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. |
4. Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pengajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan secara saksama. Demonstrasi dan jadwal pelatihan juga harus direncanakan dan dilaksanakan secara saksama.
Meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini terutama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin, dan tanpa humor. Ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.
5. Contoh Rencana Pelajaran (RP) Berorientasi Model DI
Contoh rencana pelajaran (RP) ini merupakan salah satu contoh bagaimana cara mengaplikasikan model pengajaran langsung di dalam kelas sains. Dalam RP ini akan dicontohkan bagaimana cara melatihkan penggunaan neraca Ohauss, sebagai alat ukur massa benda.
RENCANA PELAJARAN (RP)
Satuan Pendidikan : SMP dan MTs
Mata Pelajaran : Sains
Kelas : VII
Materi Pokok : Pengukuran
Submateri Pokok : Massa
Alokasi Waktu : 1 x 45 menit
I. KOMPETENSI DASAR (KD)
Siswa mampu melakukan pengukuran dasar dengan menggunakan alat ukur yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
II. INDIKATOR
1. Siswa dapat menyebutkan nama bagian-bagian neraca lengan (Ohauss).
2. Siswa terampil menggunakan neraca Ohauss untuk mengukur massa benda.
III. MODEL PENGAJARAN
Pengajaran Langsung (DI)
IV. SUMBER PEMBELAJARAN
1. LKS neraca Ohauss
2. Bagan neraca Ohauss
V. ALAT DAN BAHAN
1. Neraca Ohauss
2. Kubus besi dan balok kayu dengan massa yang sama
3. Benda-benda lain yang dapat ditimbang massanya (misalnya: kerikil, beras, atau jagung)
VI. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
A. Pendahuluan ( ± 10 menit )
| 1. Memotivasi siswa dengan meminta siswa memegang kubus besi dan balok kayu, kemudian tanyakan kepada siswa benda mana yang lebih berat. (Fase 1) 2. Pada papan tulis, tuliskan kata-kata PENGUKURAN, MASSA, NERACA LENGAN (OHAUSS), secara hirarki. (Fase 1) 3. Menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. (Fase 1) |
B. Inti ( ± 30 menit )
| 1. Menyajikan informasi tahap demi tahap tentang nama-nama bagian neraca Ohauss dengan menggunakan bagan neraca Ohauss. (Fase 2) 2. Mendemonstrasikan keterampilan cara menggunakan neraca Ohauss untuk menimbang massa kubus besi, tahap demi tahap. (Fase 2) 3. Meminta siswa menimbang massa balok kayu, dan guru membimbing siswa dalam melakukan pengukuran massa balok kayu itu. (Fase 3) 4. Memberikan umpan balik (pujian) pada aspek-aspek yang sudah benar terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan neraca Ohauss. (Fase 4) 5. Memodelkan lagi pada langkah-langkah penggunaan neraca Ohauss yang masih salah ketika siswa berlatih mengukur massa balok kayu. (Fase 4) 6. Memberikan pelatihan lanjutan dengan meminta siswa mengukur massa benda-benda lain (kerikil, beras, atau jagung) dengan menggunakan neraca Ohauss. (Fase 5) |
C. Penutup ( ± 5 menit )
| 1. Membimbing siswa membuat rangkuman Pembelajaran. Rangkuman pembelajaran berisi bagian-bagian neraca Ohauss, serta langkah-langkah pengoperasian neraca Ohauss sebagai alat ukur massa. 2. Menginformasikan kepada siswa bahwa pada pertemuan selanjutnya akan dibahas tentang penggunaan alat ukur panjang dengan menggunakan jangka sorong. |
B. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning/CL)
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
1. Landasan Teoritik
Apabila Anda baca modul yang berjudul: “Landasan Teori dalam Pengembangan Model-model Pengajaran,” maka model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Penerapan model pembelajaran kooperatif ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL (contextual teaching and learning), yaitu tentang learning community. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat membacanya pada subjudul Teori Konstruktivis serta subjudul Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual.
2. Tujuan Hasil Belajar Siswa
Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Dalam banyak kasus, norma budaya anak muda sebenarnya tidak menyukai siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademis. Robert Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan pembelajaran kooperatif.
Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.
Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat di mana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan di mana masyarakat secara budaya semakin beragam.
Sementara itu, banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial. Situasi ini dibuktikan dengan begitu sering pertikaian kecil antara individu dapat mengakibatkan tindak kekerasan atau betapa sering orang menyatakan ketidakpuasan pada saat diminta untuk bekerja dalam situasi kooperatif.
3. Keterampilan Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan.
Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut (Lundgren, 1994).
1) Keterampilan kooperatif tingkat awal, meliputi:
a. menggunakan kesepakatan
b. menghargai kontribusi
c. mengambil giliran dan berbagi tugas
d. berada dalam kelompok
e. berada dalam tugas
f. mendorong partisipasi
g. mengundang orang lain untuk berbicara
h. menyelesaikan tugas pada waktunya
i. menghormati perbedaan individu
2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah, meliputi:
a. menunjukkan penghargaan dan simpati
b. mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima
c. mendengarkan dengan aktif
d. bertanya
e. membuat ringkasan
f. menafsirkan
g. mengatur dan mengorganisir
h. menerima tanggung jawab
i. mengurangi ketegangan
3) Keterampilan kooperatif tingkat mahir, meliputi:
a. mengelaborasi
b. memeriksa dengan cermat
c. menanyakan kebenaran
d. menetapkan tujuan
e. berkompromi
4. Tingkah Laku Mengajar (Sintaks)
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi; seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
Enam tahap pembelajaran kooperatif itu dirangkum pada Tabel 2. Terdapat beberapa pendekatan yang berbeda dalam pembelajaran kooperatif, dan langkah-langkahnya sedikit bervariasi bergantung pada pendekatan yang digunakan. Empat pendekatan dan perbedaannya masing-masing akan dijelaskan kemudian.
TABEL 2. SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
| FASE-FASE | TINGKAH LAKU GURU |
| Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Fase 2 Menyajikan informasi Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase 5 Evaluasi Fase 6 Memberikan penghargaan | Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. |
5. Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menerapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pelajaran pembelajaran kooperatif ingin menjadi sukses, materi pembelajaran yang lengkap harus tersedia di ruangan guru atau di perpustakaan atau di pusat media. Keberhasilan juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan tradisional, yaitu secara ketat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit, model ini sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerjasama, berfikir kritis, dan kemampuan membantu teman.
6. Beberapa Variasi Dalam Model CL
Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, namun terdapat beberapa variasi dari model tersebut. Beberapa variasi dalam model CL tersebut diuraikan seperti berikut ini.
a. Student Teams-Achievement Division (STAD)
STAD atau Tim Siswa-Kelompok Prestasi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang, dan setiap kelompok haruslah heterogen. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, dan pada saat kuis ini mereka tidak boleh saling membantu.
Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestasinya yang lalu. Poin tiap anggota tim ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan yang lain.
b. Teams-Games-Tournaments (TGT)
TGT atau Pertandingan-Permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang berkaitan dengan STAD. Dalam TGT, siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor tim mereka. Permainan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes pengetahuan yang diperoleh siswa dari penyampaian pelajaran di kelas dan kegiatan-kegiatan kelompok. Permainan itu dimainkan pada meja-meja turnamen. Setiap meja turnamen dapat diisi oleh wakil-wakil kelompok yang berbeda, namun yang memiliki kemampuan setara.
Permainan itu berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan bagi siswa dari semua tingkat untuk menyumbangkan dengan maksimal bagi skor-skor kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Turnamen ini dapat berperan sebagai reviu materi pelajaran.
c. Jigsaw
Dalam penerapan jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan anggota kelompok 5 atau 6 orang heterogen. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab. Sebagai misal, bab zat dan wujudnya dapat dibagi menjadi sub-bab: massa jenis zat, zat padat, zat cair, zat gas, serta panas dan gerak partikel. Setiap anggota kelompok membaca sub-bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajari bagian yang diberikan itu.
Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub-bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan sub-bab mereka. Setelah itu para siswa kembali ke kelompok asal mereka dan bergantian mengajar teman satu kelompok mereka tentang sub-bab mereka. Satu-satunya cara siswa dapat belajar sub-bab lain selain dari sub-bab yang mereka pelajari adalah dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh terhadap teman satu kelompok mereka. Setelah selesai pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai kuis secara individu tentang materi belajar. Skor kelompok menggunakan prosedur skoring yang sama dengan STAD.
d. Think-Pair-Share (TPS)
TPS atau Berpikir-Berpasangan-Berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dikembangkan ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individual.
TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Misalkan seorang guru baru saja menyelesaikan suatu penyajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas, atau suatu situasi penuh teka-teki telah dikemukan. Dan guru menginginkan siswa memikirkan secara lebih mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. Guru memilih untuk menggunakan TPS sebagai ganti tanya jawab seluruh kelas. Guru perlu menerapkan langkah-langkah seperti berikut ini.
Tahap-1: Thinking (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Selanjutnya siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap-2: Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
Tahap-3: Sharing (berbagi). Pada tahap akhir ini, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini dapat dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
e. Numbered-Head-Together (NHT)
NHT atau Penomoran-Berpikir Bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang sejenis dengan TPS, dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat langkah seperti berikut ini.
Tahap-1: Penomoran. Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Tahap-2: Mengajukan Pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya atau berbentuk arahan.
Tahap-3: Berpikir Bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban itu.
Tahap-4: Menjawab. Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
7. Contoh Rencana Pelajaran (RP) Berorientasi Model CL
Contoh rencana pelajaran (RP) ini merupakan salah satu contoh bagaimana cara mengaplikasikan model pembelajaran kooperatif di dalam kelas sains. Dalam RP ini akan dicontohkan bagaimana cara menyelidiki sifat-sifat cahaya, yaitu tentang sifat cahaya merambat lurus.
RENCANA PELAJARAN (RP)
Satuan Pendidikan : SMP dan MTs
Mata Pelajaran : Sains
Kelas : VIII
Materi Pokok : Cahaya (Optik Geometrik)
Submateri Pokok : Sifat-sifat Cahaya
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
I. KOMPETENSI DASAR (KD)
Siswa mampu mendeskripsikan tentang sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan cermin dan lensa.
II. INDIKATOR
Siswa dapat:
1. menjelaskan manfaat cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
2. menjelaskan terjadinya bayang-bayang.
3. melakukan pengamatan untuk mengetahui bagaimana cahaya merambat.
4. mengamati pembentukan bayang-bayang (umbra dan penumbra).
5. melukiskan lintasan cahaya sehingga terbentuk bayang-bayang.
Keterampilan Sosial:
Siswa dapat:
1. mengajukan pertanyaan.
2. menyampaikan pendapat/menjawab pertanyaan.
3. menjadi pendengar yang aktif.
III. MODEL PENGAJARAN
Pembelajaran Kooperatif (CL) tipe STAD
IV. SUMBER PEMBELAJARAN
1. Buku Siswa: Cahaya
2. LKS “Bagaimana Cahaya Merambat”
3. LKS “Bayang-bayang”
4. LKS “Membuat Kamera Lubang Jarum”
V. ALAT DAN BAHAN
1. Penutup mata dari kain
2. Lilin
3. Kertas karton
4. Paku kecil
5. Korek api
6. Sumber cahaya lain (matahari, lampu neon, lampu senter, dsb.)
7. Benda-benda (pensil, buku, orang, dsb.)
8. Kertas HVS putih (untuk layar)
VI. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
A. Pendahuluan ( ± 10 menit )
| 1. Memotivasi siswa dengan meminta siswa menceritakan pengalamannya tentang “lampu padam” di malam hari ketika siswa sedang belajar. Tanyakan pada siswa apakah mereka dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Apa yang harus dilakukan supaya benda-benda di sekitarnya itu dapat terlihat kembali. (Fase 1) 2. Pada papan tulis, tuliskan kata-kata CAHAYA serta SIFAT-SIFAT CAHAYA. (Fase 1) 3. Menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. (Fase 1) |
B. Inti ( ± 70 menit )
| 1. Menyajikan informasi kepada siswa tentang manfaat cahaya dengan meminta siswa mendemonstrasikan “Kegiatan Penyelidikan: Akan Seperti Apa Jadinya.” (Fase 2) 2. Menanyakan kepada siswa tentang apa yang dirasakan ketika matanya ditutup rapat. (Fase 2) 3. Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran kooperatif sambil mengingatkan keterampilan kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif. (Fase 3) 4. Membagikan LKS: “Bagaimana Cahaya Merambat” kepada tiap siswa, dan tiap-tiap kelompok diberi seperangkat alat dan bahan untuk melakukan LKS itu. (Fase 3) 5. Meminta siswa melakukan kegiatan dalam LKS: “Bagaimana Cahaya Merambat.” Guru membimbing tiap-tiap kelompok untuk melakukan kegiatan dalam LKS itu. (Fase 4) 6. Meminta satu-dua kelompok untuk menuliskan di papan tulis jawaban Analisis LKS: “Bagaimana Cahaya Merambat,” nomor 1 dan 2. Kelompok lain diminta menanggapinya. (Fase 5) 7. Guru memastikan bahwa seluruh kelompok telah mengetahui jawaban yang benar. (Acuan untuk guru adalah Panduan LKS: “Bagaimana Cahaya Merambat.” (Fase 5) 8. Membagikan LKS: “Bayang-Bayang” kepada tiap siswa, dan masing-masing kelompok diberi seperangkat alat dan bahan untuk melakukan LKS itu. Bila mungkin, masing-masing kelompok diminta untuk menyediakan sendiri alat dan bahannya. (Fase 3) 9. Meminta siswa melakukan kegiatan dalam LKS: “Bayang-Bayang.” Guru membimbing masing-masing kelompok untuk melakukan kegiatan dalam LKS itu. (Fase 4) 10. Meminta satu atau dua kelompok untuk menuliskan di papan tulis jawaban Analisis LKS: “Bayang-Bayang,” nomor 1, 2, dan 3. Kelompok lain diminta menanggapinya. (Fase 5) 11. Guru memastikan bahwa seluruh kelompok telah mengetahui jawaban yang benar. (Acuan untuk guru adalah Panduan LKS: “Bayang-Bayang”) (Fase 5) |
C. Penutup ( ± 10 menit )
| 1. Mengevaluasi siswa dengan memberi pertanyaan-pertanyaan secara lisan, seputar indikator pembelajaran yang ingin dicapai. (Fase 5) 2. Memberi penghargaan pada siswa atau kelompok yang kinerjanya bagus. (Fase 6) 3. Membimbing siswa membuat rangkuman pelajaran, dengan mempresentasikan lagi jawaban benar LKS: “Bagaimana Cahaya Merambat” dan LKS: “Bayang-Bayang”. 4. Memberi tugas pada kelompok siswa untuk membawa alat dan bahan (LKS: “Membuat Kamera Lubang Jarum”). Kegiatan dalam LKS ini dilakukan pada pertemuan berikutnya. |
C. Pengajaran Berdasarkan Permasalahan (Problem Based Instruction/PBI)
Secara garis besar PBI terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Peranan guru dalam PBI adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan dialog siswa, serta mendukung belajar siswa. PBI diorganisasikan di sekitar situasi kehidupan nyata yang menghindari jawaban sederhana dan mengundang berbagai pemecahan yang bersaing. Adapun ciri-ciri utama PBI meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, suatu pemusatan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama, serta menghasilkan karya dan peragaan.
1. Landasan Teoritik
Model pengajaran ini sangat efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi, membantu siswa memproses informasi yang telah dimilikinya, dan membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia sosial dan fisik di sekelilingnya. Pengajaran berdasarkan permasalahan bertumpu pada psikologi kognitif dan pandangan para konstruktivis mengenai belajar. Model pengajaran ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL, yaitu inquiri, konstruktivisme, dan menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi.
2. Tujuan Hasil Belajar Siswa
PBI tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. PBI utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri.
3. Tingkah Laku Mengajar (Sintaks)
PBI biasanya terdiri dari lima (5) tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Jika jangkauan masalahnya tidak terlalu kompleks, maka kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga kali pertemuan. Namun untuk masalah-masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya. Kelima tahapan tersebut disajikan pada Tabel 3.
TABEL 3. SINTAKS MODEL PBI
| FASE-FASE | TINGKAH LAKU GURU |
| Fase 1 Orientasi siswa kepada masalah. Fase 2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Fase 3 Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Fase 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. | Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. |
4. Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur secara ketat yang dibutuhkan untuk pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil pada pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan sistem managemen pada PBI dicirikan oleh: terbuka, proses demokrasi, dan peranan siswa aktif. Dalam kenyataan, keseluruhan proses membantu siswa untuk menjadi mandiri, siswa yang otonom yang percaya pada keterampilan intelektual mereka sendiri memerlukan keterlibatan aktif dalam lingkungan berorientasi inkuiri yang aman secara intelektual. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran PBI yang terstruktur dan dapat diprediksi, norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan belajar menekankan pada peranan sentral siswa bukan guru.
5. Contoh Rencana Pelajaran (RP) Berorientasi Model PBI
Contoh RP ini merupakan salah satu contoh bagaimana cara mengaplikasikan model PBI di dalam kelas sains. Dalam RP ini akan dicontohkan bagaimana cara menjernihkan air yang keruh. Siswa dapat membuat model penjernih air yang efektif dan efisien.
RENCANA PELAJARAN (RP)
Satuan Pendidikan : SMP dan MTs
Mata Pelajaran : Sains
Kelas : VIII
Materi Pokok : Pemisahan Campuran
Submateri Pokok : Penyaringan
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
III. KOMPETENSI DASAR (KD)
Siswa dapat melakukan percobaan untuk memisahkan campuran dengan beberapa cara sesuai dengan karakteristik campuran.
II. INDIKATOR
Siswa dapat:
1. menjelaskan cara menjernihkan air yang keruh.
2. menyebutkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk penjernihan air.
3. mengamati air hasil penyaringan
4. mengidentifikasi variabel-variabel dalam percobaan (variabel manipulasi, respon, dan kontrol).
5. menyelidiki pengaruh jenis bahan penyaring terhadap kejernihan air hasil penyaringan.
6. menggunakan stop watch.
7. menggunakan gelas ukur.
8. membuat model penjernihan air yang efektif dan efisien.
Keterampilan Sosial:
Siswa dapat:
1. mengajukan pertanyaan.
2. menyampaikan pendapat/menjawab pertanyaan.
3. menjadi pendengar yang aktif.
IV. MODEL PENGAJARAN
Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBI)
V. SUMBER PEMBELAJARAN
1. Buku Siswa untuk SMP Kelas VIII (Materi: Campuran)
2. LKS: Mari Kita Menjernihkan Air
3. Panduan LKS: Mari Kita Menjernihkan Air (untuk guru)
VI. ALAT DAN BAHAN
2. Gelas ukur, stop watch.
3. Bahan-bahan untuk penjernihan air.
4. Pupuk penyubur (fertilizer), pipet tetes
VII. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
A. Pendahuluan ( ± 10 menit )
| 1. Memotivasi siswa dengan menunjukkan segelas air jernih dan segelas air keruh. Meminta siswa untuk mendeskripsikan perbedaan kedua air dalam gelas itu. Tanyakan pada siswa “Apakah air yang keruh itu dapat diubah menjadi jernih?” (Fase 1) 2. Pada papan tulis, tuliskan kata-kata PEMISAHAN CAMPURAN serta Penjernihan Air. (Fase 1) 3. Menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. (Fase 1) |
B. Inti ( ± 70 menit )
| 1. Meminta siswa duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. (Fase 2) 2. Membagikan LKS: Mari Kita Menjernihkan Air kepada tiap siswa, dan tiap-tiap kelompok diberi seperangkat alat dan bahan untuk melakukan kegiatan dan LKS tersebut. (Fase 2) 3. Meminta tiap-tiap kelompok untuk melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk dalam LKS. (Fase 3) 4. Membimbing tiap-tiap kelompok untuk membuat model penjernih air yang efektif dan efisien. (Fase 3) 5. Tiap-tiap kelompok yang telah selesai melakukan kegiatan, diminta untuk menyiapkan dan memamerkan hasil karyanya serta menuliskan laporannya. (Fase 4) 6. Meminta tiap-tiap kelompok untuk mengamati karya-karya yang telah dipamerkan dan diminta untuk menilai mana karya yang dapat menghasilkan air paling jernih, dan mana yang menghasilkan air paling cepat. (Fase 5) 7. Meminta kelompok yang menghasilkan air paling jernih, dan yang menghasilkan air paling cepat untuk presentasi. Kelompok lain diminta menanggapinya. (Fase 5) 8. Guru merefleksi terhadap karya-karya serta apa saja yang telah dikerjakan oleh tiap-tiap kelompok. (Fase 5) 9. Memberikan penghargaan kepada siswa/kelompok yang kinerjanya bagus atau yang menghasilkan model penjernihan air paling efektif, dan efisien. |
C. Penutup ( ± 10 menit )
| 1. Membimbing siswa membuat rangkuman pembelajaran, terutama tentang model penjernihan air yang efektif dan efisien. 2. Masih dalam seting kelompok, meminta tiap-tiap kelompok menuang air hasil saringannya ke dalam sebuah gelas plastik yang bersih dan disimpan untuk pembelajaran minggu depan. Pada gelas yang lain, siswa diminta untuk menuangkan air aquarium yang telah disiapkan oleh guru. 3. Meminta tiap-tiap kelompok untuk memberikan fertilizer pada kedua gelas itu sebanyak 20 tetes. Dan kemudian, kedua gelas itu ditutup dengan plastik bening. |
1. Pengertian Strategi-Strategi Belajar
Akhirnya, adalah sangat penting bagi guru untuk membantu para siswanya menguasai strategi belajar. Kadang-kadang strategi belajar disebut juga strategi kognitif. Strategi belajar atau strategi kognitif merupakan alat untuk membantu siswa belajar dengan kemampuannya sendiri. Proses-proses ini digunakan untuk membantu siswa “belajar bagaimana belajar” (learn how to learn), yaitu bagaimana memahami, menyimpan, dan mengingat kembali keterampilan dan informasi. Pengaruh positif strategi kognitif terhadap hasil belajar siswa telah ditunjukkan oleh banyak hasil penelitian. Strategi ini dapat dikuasai guru dalam waktu yang cepat dan kemudian dapat diajarkannya kepada siswa-siswanya. Namun, hal ini memerlukan perubahan pola berpikir guru, karena guru tradisional hanya menyediakan waktu yang sangat terbatas untuk aspek pembelajaran ini.
2. Tujuan Pengajaran Strategi Belajar
Tujuan utama mengajarkan strategi belajar ini adalah untuk menghasilkan pebelajar yang dapat mengendalikan diri-sendiri (pebelajar mandiri), yang didefinisikan sebagai individu yang dapat: (1) secara teliti mendiagnosis suatu situasi pembelajaran tertentu, (2) memilih suatu strategi belajar untuk memecahkan suatu masalah belajar yang dihadapi, (3) memonitor keefektifan strategi tersebut, dan (4) cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi pembelajaran sampai pembelajaran itu tuntas.
Satu contoh dari seorang pebelajar mandiri adalah seseorang yang mengetahui kapan penting untuk merangkum atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan sambil membaca suatu halaman dalam suatu buku atau mendengarkan presentasi guru. Pebelajar ini juga mengetahui kapan saatnya tidak penting menerapkan suatu strategi, seperti pada saat guru sedang menceritakan suatu humor atau mengingatkan kembali suatu pengalaman yang menarik. Dengan kata lain, seorang pebelajar mandiri dapat memilih strategi belajar yang cocok dan menggunakan strategi itu secara berhasil untuk menyelesaikan suatu tugas belajar.
3. Landasan Teoritik
Dukungan teoritis untuk strategi-strategi belajar terutama berasal dari teori pemrosesan informasi. Teori tersebut menekankan pentingnya pengetahuan awal dalam belajar. Di dalam modul yang berjudul “Beberapa Teori Belajar yang Melandasi Pengembangan Model-Model Pengajaran,” telah dibicarakan tentang teori pemrosesan informasi ini. Pandangan pemrosesan informasi bersandar pada komputer sebagai analogi untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja. Di samping itu juga menjelaskan bagaimana informasi dikode, disimpan, dan dipanggil ulang untuk penggunaan di kemudian hari.
Pengorganisasi awal (advance organizer) merupakan salah satu alat mengajar yang digunakan untuk mengaktifkan skemata di dalam memori jangka-panjang yang berhubungan dengan informasi baru yang akan dipelajari. Karena lingkungan terdiri dari banyak rangsangan dan karena memori jangka-pendek terbatas, membuat siswa tertarik kepada suatu pengetahuan tertentu adalah penting apabila dikehendaki pelajaran yang berhasil. Berbagai macam cara untuk membangkitkan perhatian siswa tersedia untuk menjadikan pelajaran berhasil.
4. Jenis-Jenis Strategi Belajar
Strategi-strategi belajar dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu: strategi pengulangan, strategi elaborasi, strategi organisasi, dan strategi metakognitif. Strategi pengulangan dapat dibedakan menjadi strategi sederhana dan strategi kompleks. Strategi pengulangan sederhana terdiri dari pengulangan informasi secara verbal. Misalnya, untuk menghafal nomor telepon, ketika kita tidak memiliki bolpoin untuk menuliskan informasi itu, kita dapat menghafalnya dengan mengucapkan secara berulang-ulang informasi itu. Strategi pengulangan kompleks terdiri dari penambahan sesuatu yang bermakna pada pengulangan verbal. Pengulangan kompleks ini memerlukan upaya lebih jauh dari sekedar mengulang informasi. Misalnya, agar nomor telepon itu dapat pindah ke memori jangka-panjang, kita dapat mengkaitkan nomor telepon itu dengan sesuatu yang bermakna, seperti menghubungkannya dengan tanggal lahir seseorang. Sedangkan, untuk informasi yang lebih kompleks, kita dapat menerapkan strategi mengulang kompleks, antara lain: menggarisbawahi ide-ide kunci dan membuat catatan pinggir. Strategi ini diterapkan, karena seorang siswa tidak dapat mengingat seluruh kata atau ide dalam sebuah bacaan hanya dengan membaca buku itu keras-keras.
Strategi elaborasi membantu dalam proses pengembangan makna informasi baru dengan penambahan rincian dan penemuan hubungan-hubungan. Strategi elaborasi yang umum digunakan adalah; analogi, catatan matriks, dan PQ4R. Analogi adalah pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan kesamaan antara ciri-ciri pokok sesuatu benda atau ide-ide, selain itu seluruh cirinya berbeda. Misalnya, kita dapat menganalogikan prinsip kerja otak dengan prinsip kerja komputer. Pembuatan catatan secara matriks merupakan suatu cara pengelaborasian dan pembuatan perbandingan untuk informasi kompleks. PQ4R merupakan suatu cara yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. PQ4R singkatan dari P (preview: membaca selintas dengan cepat), Q (question: bertanya), 4R (read: membaca, reflect: refleksi, recite: tanya-jawab sendir, dan review: mengulang secara menyeluruh).
Strategi organisasi meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan pembelajaran baru dengan menerapkan struktur pengorganisasian baru pada ide-ide sederhana dan kompleks. Strategi-strategi organisasi yang umum digunakan adalah mnemonics, outlining, dan peta konsep. Mnemonics secara teknis dapat diklasifikasikan sebagai salah satu strategi, elaborasi atau organisasi. Pada dasarnya, mnemonics berhubungan dengan teknik atau strategi untuk membantu ingatan dengan membantu membentuk asosiasi yang secara alamiah tidak ada. Misalnya, me ji ku hi bi ni u, digunakan siswa untuk mengingat warna-warna spektrum, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Outlining atau membuat kerangka garis besar merupakan strategi yang membantu siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama. Peta konsep atau mapping merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari bahan yang kompleks. Peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat.
Strategi metakognitif berhubungan dengan berpikir siswa dengan berpikirnya sendiri dan kemampuannya untuk memonitor proses-proses kognitif. Strategi-strategi metakognitif meliputi dua pengetahuan, yaitu tentang kognisi dan pemonitoran kognitif. Pengetahuan tentang kognisi terdiri dari informasi dan pemahaman yang dimiliki seorang siswa tentang proses berpikirnya sendiri di samping pengetahuan tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam suatu situasi pembelajaran tertentu. Sedangkan pemonitoran kognitif merupakan kemampuan siswa untuk memilih, menggunakan, dan memonitor strategi-strategi belajar yang cocok, cocok dengan gaya belajar mereka sendiri maupun dengan situasi yang sedang dihadapi. Contoh penggunaan strategi metakognitif, seorang siswa dengan gaya belajar visual akan menggunakan peta konsep dalam belajar.
Agar siswa berhasil di sekolah, maka penting sekali strategi-strategi belajar itu diajarkan kepada siswa di sekolah. Cara utama untuk mengajarkan strategi-strategi belajar itu adalah dengan pengajaran langsung.
1. Buatlah sebuah contoh rencana pelajaran (RP) yang berorientasi model pengajaran langsung (lengkap dengan sintaksnya).
2. Buatlah sebuah contoh rencana pelajaran (RP) yang berorientasi model pembelajaran kooperatif (lengkap dengan sintaksnya).
3. Buatlah sebuah contoh rencana pelajaran (RP) yang berorientasi model pengajaran berdasarkan permasalahan (lengkap dengan sintaksnya).
4. Buatlah sebuah contoh strategi belajar, misalnya peta konsep tentang materi sains yang akan Anda ajarkan pada siswa Anda di kelas.
Arends, Richards I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: McGraw-Hill.
Kardi, S., Nur, M. 2000. Pengantar Pada Pengajaran Dan Pengelolaan Kelas. Surabaya: University Press-UNESA.
Kardi, S., Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: University Press-UNESA.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in the Science Classroom. New York: McGraw-Hill.
Nur, M., Ibrahim, M., Rachmadiarti, F., Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press-UNESA.
Nur, M., Ibrahim, M. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: University Press-UNESA.
Nur, Mohamad. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya: University Press-UNESA.
Nur, Mohamad. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya: University Press-UNESA.
SKENARIO PELATIHAN
Bahan pelatihan ini disajikan dalam waktu (8 x 45 menit) atau 360 menit untuk modeling model-model pengajaran (Sains-C4) dan (4 x 45 menit) atau 180 menit untuk diskusi teori belajar (Sains-C2) dengan skenario sebagai berikut.
| No | Waktu | Kegiatan |
| 1 2 3 4 | 135 menit (90 menit: modeling model DI; 45 menit diskusi) 135 menit (90 menit: modeling model CL; 45 menit diskusi) 135 menit (90 menit: modeling model PBI; 45 menit diskusi) 135 menit | · Menyampaikan kompetensi dan tujuan pelatihan. · Pemodelan (modeling) rencana pelajaran (RP) model Pengajaran Langsung (DI). · Diskusi dan refleksi model DI (termasuk mendiskusikan Teori belajar sosial dan CTL) (Sains-C2). · Menyampaikan kompetensi dan tujuan pelatihan. · Modeling RP model Pembelajaran kooperatif (CL). · Diskusi dan refleksi model CL (termasuk mendiskusikan Teori konstruktivis dan CTL) (Sains-C2). · Menyampaikan kompetensi dan tujuan pelatihan. · Modeling RP model Pengajaran berdasarkan masalah (PBI). · Diskusi dan refleksi model PBI (termasuk mendiskusikan Teori konstruktivis dan CTL) (Sains-C2). · Menyampaikan kompetensi dan tujuan pelatihan. · Memberikan contoh-contoh penerapan strategi-strategi belajar (LS) · Mendiskusikan Teori pemrosesan informasi (Sains-C2). · Meminta peserta menerapkan LS (membuat contoh-contoh penerapan LS). |
| S | 540 menit | |
Alat dan bahan yang diperlukan:
1. Neraca lengan (Ohauss)
2. Kubus besi dan balok kayu (massa yang sama)
3. Penutup mata (sapu tangan)
4. Lilin (dan korek api)
5. Kertas karton
6. Paku kecil
7. Lampu senter (dengan baterai)
8. Bola lampu (neon)
9. Gelas ukur
10. Stopwatch
11. Pupuk penyubur (fertilizer)
12. Pipet tetes
13. Botol plastik (Aqua 1,5 L)
14. Kain penyaring
15. Pisau pemotong (kater)
Catatan: Alat dan bahan tersebut minimal berjumlah 5 set, kecuali pupuk penyubur (fertilizer) cukup satu botol sekitar 500 mL.
Media:
1. OHP
2. Transparansi: Model-model Pengajaran
Teori Belajar
Modul SAINS-C4 ini saling terkait dengan Modul SAINS-C2. Modul SAINS-C2 pada umumnya bersifat teoritis, sedangkan Modul SAINS-C4 merupakan aplikasi dari teori-teori yang dibicarakan di dalam Modul SAINS-C2. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pelatihan sebaiknya Modul SAINS-C2 dan Modul SAINS-C4 sebaiknya tidak terpisahkan.
Pada saat instruktur melatihkan Modul SAINS-C2, sebaiknya langsung dibarengi dengan melatihkan Modul SAINS-C4. Sebagai contoh, pada satu tatap muka instruktur dapat membahas teori pemodelan tingkah laku (Modul SAINS-C2) selama 1 x 45 menit, selanjutnya instruktur membahas model pengajaran langsung (Modul SAINS-C4) selama 2 x 45 menit, dengan mengambil salah satu materi pelajaran untuk dimodelkan dalam pelatihan tersebut. Dengan demikian strategi pelatihan modul ini tidak hanya bersifat informatif atau ceramah, namun instruktur dituntut untuk dapat memberikan contoh (model) sebagai guru sains yang sedang mengajar di depan kelas. Strategi pelatihan dengan menerapkan modeling ini diharapkan dapat diterapkan pada semua jenis model pengajaran yang telah dibahas dalam Modul SAINS-C4 ini.
Karena Modul SAINS-C4 ini sifatnya aplikatif, maka ketercapaian tujuan modul ini hanya dapat diamati ketika peserta mengajarkan materi pelajaran di depan kelas. Dan evaluasi semacam ini membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun dalam waktu yang relatif singkat, mungkin ketercapaian tujuan modul ini hanya dapat dilihat dari rencana pelajaran (RP) yang telah dikembangkan oleh peserta berdasarkan isi modul yang telah mereka pelajari ini. Oleh karena itu, evaluasi yang mungkin akan diterapkan adalah pemberian tugas untuk mengembangkan RP masing-masing untuk jenis model pengajaran yang ada di dalam Modul SAINS-C4 ini.
Penulis berharap Modul SAINS-C4 yang membahas beberapa model pengajaran dan strategi belajar secara singkat ini dapat bermanfaat bagi Anda sebagai seorang guru Sains. Dengan berbekal dan penguasaan Anda terhadap beberapa model pengajaran dan strategi belajar yang telah diuraikan dalam modul ini diharapkan Anda dapat mengaplikasikan teori-teori belajar yang telah dibicarakan di dalam Modul SAINS-C2. Di samping itu, dengan penguasaan Anda terhadap isi modul ini diharapkan Anda dapat menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan pembelajaran sains diharapkan menjadi bermakna bagi siswa. Diharapkan siswa menjadi senang belajar sains dan pada akhirnya siswa diharapkan dapat menampakkan hasil belajar yang memuaskan.
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
(Contextual Teaching and Learning, CTL)
Oleh
Martinus Sutrisno
MAHASISWA-UNESA
Apakah Pembelajaran Kontekstual Itu?
“Context” berasal dari kata kerja latin contexere yang berarti “menganyam menjadi satu.” Pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja (U.S. Departement of Education and the National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001).
Pembelajaran kontekstual bukan merupakan suatu konsep baru. Penerapan pembelajaran kontekstual di kelas-kelas Amerika pertama-tama diusulkan oleh John Dewey. Pada tahun 1916, Dewey mengusulkan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa. Perkembangan pemahaman yang diperoleh selama mengadakan telaah pustaka menjadi semakin jelas bahwa CTL merupakan suatu perpaduan dari banyak “praktek pengajaran yang baik” dan beberapa pendekatan reformasi pendidikan yang dimaksudkan untuk memperkaya relevansi dan penggunaan fungsional pendidikan untuk semua siswa.
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam-sekolah dan luar-sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia-nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan (University of Washington, 2001). Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa, dan tenaga kerja (University of Washington, 2001). Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (Blanchard, 2001). CTL menekankan pada berfikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin, serta pengumpulan, penganalisisan dan pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan.
Berdasarkan konsep pembelajaran kontekstual tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan, siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahui”-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi akan berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, namun akan gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan, inilah yang banyak terjadi di kelas-kelas sekolah kita!
Unsur-unsur Kunci CTL
Di samping beberapa hal yang sudah dipaparkan di atas, telah diidentifikasi enam unsur kunci CTL seperti berikut ini (University of Washington, 2001).
a. Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi dan penghargaan pribadi siswa bahwa ia berkepentingan terhadap konten yang harus dipelajari. Pembelajaran dipersepsi dengan hidup mereka.
b. Penerapan Pengetahuan: kemampuan untuk melihat bagaimana apa yang dipelajari diterapkan dalam tatanan-tatanan lain dan fungsi-fungsi pada masa sekarang dan akan datang.
c. Berfikir Tingkat Lebih Tinggi: siswa dilatih untuk menggunakan berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu issu, atau memecahkan suatu masalah.
d. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar: konten pengajaran berhubungan dengan suatu rentang dan beragam standar lokal, negara bagian, nasional, assosiasi, dan/atau industri.
e. Responsive terhadap budaya: Pendidik harus memahami dan menghormati nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan siswa, sesama rekan pendidik dan masyarakat tempat mereka mendidik. Berbagai macam budaya perorangan dan kelompok mempengaruhi pembelajaran. Budaya-budaya ini, dan hubungan antar budaya-budaya ini, mempengaruhi bagaimana pendidik membelajarkan siswanya. Paling tidak empat perspektif seharusnya dipertimbangkan: individu siswa, kelompok siswa (seperti tim atau keseluruhan kelas), tatanan sekolah, dan tatanan masyarakat yang lebih besar.
f. Penilaian Otentik: penggunaan berbagai macam strategi penilaian yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari siswa. Strategi-strategi ini dapat meliputi penilaian atas proyek dan kegiatan siswa, penggunaan portfolio, rubriks, ceklis, dan panduan pengamatan di samping memberikan kesempatan kepada siswa ikut aktif berperan-serta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri dan penggunaan tiap-tiap penilaian untuk memperbaiki keterampilan menulis mereka.
Adapun The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning (2001), telah mengidentifikasi tujuh unsur kunci CTL seperti berikut ini.
a. Inkuiri (Inquiry)
w Diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka untuk memahami suatu konsep.
w Siklus yang terdiri dari kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan teori, baik secara individu maupun bersama-sama dengan teman lainnya.
w Mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis.
Inkuiri (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan.
Apakah hanya pada pelajaran IPA inkuiri itu bisa diterapkan? Jawabannya, tentu “Tidak!” Inkuiri dapat diterapkan pada semua bidang studi, misalnya: bahasa Indonesia (menemukan cara menulis paragraf deskripsi yang indah); IPS (membuat sendiri bagan silsilah raja-raja Majapahit); PPKn (menemukan perilaku baik dan perilaku buruk sebagai warga Negara), dan sebagainya. Kata kunci dari inkuiri adalah “siswa menemukan sendiri.”
b. Bertanya (Questioning)
w Digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
w Digunakan oleh siswa selama melakukan kegiatan berbasis inkuiri.
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, umumnya bermula dari “bertanya.” Sebelum tahu lokasi SMPN 1 Taman Sidoarjo, seseorang akan bertanya “Mana arah ke kota Sidoarjo?” Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Melatih keterampilan bertanya siswa tidak lain adalah untuk mengembangkan sifat ingin tahu siswa.
Bagaimanakah penerapannya di kelas? Hampir pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dsb. Kegiatan-kegiatan itu akan menumbuhkan dorongan untuk “bertanya.”
c. Konstruktivisme (Constructivism)
w Membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal.
w Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar bermakna.
Salah satu landasan berpikir (filosofi) pembelajaran CTL adalah teori pembelajaran konstruktivis. Teori ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Inquiry-Based Learning dan Problem-Based Learning yang disebut sebagai strategi CTL (University of Washington, 2001) diwarnai student centered dan aktivitas siswa.
Problem-Based Learning tersebut juga sejalan dengan pengajaran top-down yang lebih ditekankan pada pendekatan konstruktivis. Di dalam pengajaran top-down, siswa mulai dengan suatu tugas yang kompleks dan otentik, artinya tugas itu bukan merupakan bagian dari suatu tugas kompleks yang akhirnya diharapkan tugas itu dapat dilakukan siswa, melainkan tugas itu merupakan tugas kompleks yang sebenarnya tersebut.
Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis kegiatan, dan penemuan. Salah satu prinsip kunci yang diturunkan dari teorinya adalah penekanan pada hakikat sosial dalam pembelajaran. Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Slavin, 2000). Berdasarkan teori ini dikembangkan pembelajaran kooperatif, yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Hal ini sejalan dengan ide Blanchard (2001) bahwa strategi CTL mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama.
Teori Vygotsky yang lain mengatakan bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam daerah perkembangan terdekat atau zone of proximal development siswa. Daerah perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Tingkat perkembangan saat ini tidak lain adalah tingkat pengetahuan awal atau pengetahuan prasyarat yang terkait dengan konsep yang akan dipelajari siswa tersebut. Apabila pengetahuan prasyarat itu telah dikuasai, maka kemungkinan sekali akan terjadi pembelajaran bermakna. Tetapi apabila pengetahuan prasyarat itu belum dikuasai, maka siswa akan gagal, atau paling-paling terjadi pembelajaran hafalan yang membosankan dan tidak menumbuhkan motivasi siswa. Apabila proses belajar mengajar seperti ini terus-menerus berlangsung dari tahun ke tahun, maka kemungkinan besar banyak siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Pembelajaran bermakna ini sama dengan salah satu unsur kunci CTL University of Washington.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
w Berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
w Bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran adalah lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.
Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang “ahli” ke kelas. Misalnya tukang sablon, petani jagung, peternak ayam, teknisi komputer, tukang cat mobil, tukang reparasi kunci, dan sebagainya.
e. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)
w Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
w Mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau keterampilan.
w Penilaian produk atau kinerja.
w Tugas-tugas yang kontekstual dan relevan.
w Proses dan produk dua-duanya dapat diukur.
Penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa telah mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera dapat mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak boleh hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran, seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UUB, Ebta/Ebtanas, atau UAN), tetapi harus dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisah) dari kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Karena penilaian menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar Bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan bahasa Inggris, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes bahasa Inggris. Data yang diambil dari kegiatan siswa saat siswa melakukan kegiatan berbahasa Inggris baik di dalam kelas maupun di luar kelas itulah yang disebut data otentik.
f. Refleksi (Reflection)
w Cara-cara berpikir tentang apa-apa yang telah kita pelajari.
w Merevisi dan merespon kepada kejadian, aktivitas, dan pengalaman.
w Mencatat apa yang telah kita pelajari, bagaimana kita merasakan ide-ide baru.
w Dapat berupa berbagai bentuk: jurnal, diskusi, maupun hasil karya/seni.
Refleksi juga bagian penting dalam pembelajaran CTL. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung “Kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari ini, file komputer saya lebih tertata.”
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit-demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya dapat berupa:
· Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu.
· Catatan atau jurnal di buku siswa.
· Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu.
· Diskusi.
· Hasil karya.
g. Pemodelan (Modelling)
w Berpikir tentang proses pembelajaran Anda sendiri.
w Mendemonstrasikan bagaimana Anda menginginkan para siswa untuk belajar.
w Melakukan apa yang Anda inginkan agar siswa melakukan.
Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran, keterampilan atau pengetahuan tertentu, perlu ada model yang dapat ditiru. Model itu dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya. Atau, guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar.”
Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru membaca dan membolak-balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya, ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus itu, guru menjadi model.
Dalam pembelajaran CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa “contoh” tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapainya.
Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli ber-bahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi “model” cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.
Bagaimanakah contoh praktek pemodelan di kelas?
· Guru olahraga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa.
· Guru PPKn mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh itu.
· Guru geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya.
· Guru IPA mendemonstrasikan penggunaan termometer suhu badan.
· Guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dsb. sebagai model pembuatan berita.
· Guru kerajinan mendatangkan “model” tukang kayu ke kelas, lalu memintanya untuk bekerja dengan peralatannya, sementara siswa menirunya.
Arends, Richards I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: McGraw-Hill.
Blanchard, Allan. 2001. Contextual Teaching and Learning. @ B.E.S.T.
Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Gredler, Margaret E. Bell (Penerjemah, Munandir). 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hamilton, Ricard. 1994. Learning Instruction. New York: McGraw-Hill.
Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning. California: Corwin Press.
Nur, Mohamad. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa Dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran. Pusat Studi Matematika Dan IPA Sekolah, UNESA.
Slavin, Robert E. 1994. Educational Psychology: Theories and Practice. Fourth Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publishers.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publishers.
Slavin, Robert E. 2000. Educational Psychology Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.
University of Washington College of Education. 2001. Training for Indonesian Education Team In Contextual Teaching and Learning. Seatle, Washington, USA.
University of Washington College of Education. 2002. Indonesia Teacher Training Project. The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning.
Woolfolk, Anita. 1993. Educational Psychology. Fifth Edition. Needham Heights: Allyn and Bacon Publishers.